Kanker otak adalah tumor ganas yang terjadi pada jaringan otak atau meninges. Walaupun angka kejadiannya tidak tinggi, karena lokasinya yang khusus, begitu muncul dapat dengan cepat memengaruhi fungsi penting seperti bahasa, gerakan, dan kognisi. Jika tidak segera didiagnosis dan diobati, sering menyebabkan kerusakan saraf yang tidak dapat dipulihkan bahkan mengancam jiwa. Oleh karena itu, deteksi dini dan diagnosis akurat sangat penting secara klinis. Metode diagnosis saat ini terutama bergantung pada pencitraan medis yang dikombinasikan dengan gejala klinis, serta konfirmasi melalui biopsi jaringan.
1. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI adalah alat pencitraan saraf yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis kanker otak. Dapat memperlihatkan lokasi, ukuran, batas, dan apakah tumor menyerang struktur sekitarnya dengan jelas. MRI dengan kontras dapat lebih lanjut membedakan jenis tumor dan tingkat keganasan, terutama untuk mengidentifikasi glioma dan medulloblastoma.
2. Computed Tomography (CT)
CT cocok untuk pasien dengan gejala akut, dapat dengan cepat mengevaluasi perdarahan intrakranial, kompresi massa, dan edema otak. Walaupun resolusinya tidak setinggi MRI, CT memiliki nilai penting dalam penyelamatan darurat atau evaluasi pra-operasi cepat. Jika pasien tidak dapat menjalani MRI, CT dapat menjadi alternatif.
3. Elektroensefalogram (EEG) dan Tes Fungsi Saraf
Jika pasien mengalami kejang atau gangguan kesadaran, EEG dapat membantu menilai apakah ada aktivitas listrik otak yang abnormal, yang secara tidak langsung menunjukkan disfungsi akibat tumor. Tes fungsi kognitif dan evaluasi bahasa juga dapat membantu menentukan area otak yang terkena.
4. Pencitraan PET-CT
Positron Emission Tomography yang dikombinasikan dengan CT dapat mengamati tingkat aktivitas metabolisme jaringan tumor, sehingga dapat memperkirakan sifat jinak atau ganasnya. Metode ini sangat berguna dalam membedakan antara kekambuhan dan nekrosis, serta membantu strategi operasi dan radioterapi/kemoterapi.
5. Pemeriksaan Fundus dan Evaluasi Lapang Pandang
Beberapa kanker otak dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan memengaruhi saraf optik, menyebabkan papiledema atau defek lapang pandang. Pemeriksaan oftalmologi adalah pelengkap penting untuk menilai tekanan intrakranial dan mendeteksi tumor intrakranial secara tidak langsung, terutama pada pasien anak.
6. Pungsi Lumbal dan Analisis Cairan Serebrospinal (CSF)
Pada kasus yang dicurigai metastasis meningeal atau leukemia sistem saraf pusat, analisis CSF dapat dilakukan. Perubahan tekanan, protein abnormal, atau sel abnormal pada CSF dapat membantu menilai sifat penyakit, tetapi prosedur ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari perubahan tekanan intrakranial mendadak.
7. Biopsi Jaringan dan Analisis Patologi Molekuler
Diagnosis pasti kanker otak bergantung pada jaringan patologis yang diperoleh melalui pembedahan atau biopsi. Dengan teknik imunohistokimia dan analisis mutasi gen, tipe tumor dapat ditentukan dengan lebih akurat, memberikan dasar bagi terapi target atau imunoterapi. Biopsi intraoperatif juga dapat membantu menilai luas reseksi dan rencana pembedahan.
8. Tes Genetik dan Diagnosis Individual
Beberapa kanker otak berkaitan erat dengan mutasi gen tertentu, seperti mutasi IDH atau metilasi MGMT. Melalui tes darah atau jaringan, biomarker ini dapat diperiksa untuk memprediksi prognosis serta memilih pengobatan yang lebih tepat sasaran, yang merupakan arah perkembangan baru dalam beberapa tahun terakhir.
Diagnosis kanker otak membutuhkan kerja sama multidisipliner, dengan menggabungkan informasi dari pencitraan, pemeriksaan fungsi, patologi, dan molekuler. Para ahli dari United Life International Medical Center menekankan bahwa diagnosis dini dan akurat adalah kunci untuk memperpanjang kelangsungan hidup serta meningkatkan kualitas hidup pasien.