> Beranda > Rehabilitasi Penyakit > Rekonstruksi Organ > Kegagalan Ovarium Prematur

Diagnosis Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi (ED) adalah penyakit umum pada pria yang dapat dipicu oleh banyak faktor. Untuk menegakkan diagnosis yang akurat, diperlukan evaluasi komprehensif termasuk riwayat medis, pemeriksaan fisik, serta serangkaian tes penunjang. Diagnosis dini membantu menemukan penyakit yang mendasarinya, sekaligus mendukung penyusunan strategi terapi individual.

Dasar Diagnosis ED

1. Anamnesis dan Riwayat Penyakit

Meliputi evaluasi fungsi seksual, frekuensi hubungan seksual, kualitas ereksi, riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia, serta riwayat penggunaan obat-obatan. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi juga perlu ditelusuri.

2. Pemeriksaan Fisik

Termasuk pemeriksaan alat kelamin, tanda hipogonadisme (seperti testis kecil, distribusi rambut abnormal), serta evaluasi sistem kardiovaskular, endokrin, dan saraf untuk menyingkirkan faktor penyebab organik lainnya.

3. Tes Laboratorium

● Tes darah rutin: Untuk menilai fungsi hati, ginjal, dan kadar lipid.

● Evaluasi hormonal: Kadar testosteron, LH, FSH, prolaktin, dan TSH. Rendahnya testosteron sering berkaitan dengan ED.

● Gula darah puasa dan HbA1c: Untuk menilai apakah pasien menderita diabetes atau resistensi insulin.

4. Pemeriksaan Pencitraan dan Fungsional

● USG Doppler penis: Menilai aliran darah arteri penis dan fungsi vena.

● Tes ereksi farmakologis: Dengan menyuntikkan obat vasoaktif untuk menilai respons ereksi penis.

● Nocturnal Penile Tumescence (NPT): Digunakan untuk membedakan ED organik dan psikogenik dengan memantau ereksi saat tidur.

5. Penilaian Psikologis

Menggunakan kuesioner standar seperti IIEF-5 (International Index of Erectile Function) untuk menilai tingkat keparahan ED dan dampaknya terhadap kehidupan seksual.

6. Diagnosis Banding

Sebelum menegakkan diagnosis ED, perlu dibedakan dari kondisi lain seperti ejakulasi dini, libido rendah, serta penyakit Peyronie. Evaluasi menyeluruh sangat penting untuk mencegah salah diagnosis.

Kesimpulan

Pakar dari United Life International Medical Center menekankan bahwa diagnosis disfungsi ereksi tidak hanya bertujuan menilai fungsi seksual, tetapi juga dapat menjadi indikator kesehatan kardiovaskular dan endokrin pria. Evaluasi komprehensif dapat menemukan penyakit tersembunyi, memberikan dasar bagi pengobatan ilmiah, serta membuka peluang penerapan terapi inovatif seperti sel punca untuk memulihkan fungsi ereksi. Diagnosis dini dan intervensi tepat waktu adalah kunci keberhasilan pengobatan.