Kanker orofaring adalah tumor ganas yang terjadi di daerah orofaring (termasuk langit-langit lunak, pangkal lidah, tonsil, dan dinding belakang faring), sebagian besar berupa karsinoma sel skuamosa. Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria di atas usia 50 tahun, namun dalam beberapa tahun terakhir tren kejadian pada orang muda meningkat, terutama pada kelompok yang terinfeksi HPV.
Secara global, kanker orofaring memiliki angka kejadian tinggi di Amerika Utara, Eropa Barat, dan Australia. Di negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Thailand, Malaysia, serta wilayah selatan Tiongkok, angka kejadian juga tinggi akibat konsumsi tembakau dan alkohol, serta kebersihan mulut yang buruk. Pada stadium lanjut, kanker orofaring sering menyebabkan gangguan fungsi pernapasan dan menelan akibat metastasis, yang mengancam jiwa.
Stadium I: Lesi lokal, tingkat kelangsungan hidup tinggi
Stadium I kanker orofaring ditandai dengan tumor kecil yang terbatas pada mukosa orofaring, tanpa invasi ke jaringan dalam atau kelenjar getah bening. Pasien biasanya hanya mengalami sedikit rasa asing di tenggorokan atau sakit tenggorokan singkat. Jika dapat diangkat dengan operasi tepat waktu, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun bisa mencapai lebih dari 80%.
Stadium II: Tumor membesar, belum menyebar luas
Pada tahap ini, lesi semakin membesar tetapi masih terbatas di area orofaring, sebagian dapat melibatkan kelenjar getah bening lokal. Gejala semakin berat, seperti ketidaknyamanan tenggorokan yang persisten atau kesulitan menelan. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 60%–70%, biasanya memerlukan kombinasi radioterapi dan kemoterapi untuk mengendalikan penyakit.
Stadium III: Metastasis kelenjar getah bening regional jelas
Tumor telah menyerang jaringan dalam dan disertai metastasis pada kelenjar getah bening leher satu sisi, dengan gejala suara serak, nyeri menelan hebat, dan tinnitus yang jelas. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun menurun menjadi sekitar 40%–50%, dengan pengobatan utama berupa kombinasi radioterapi, pembedahan, dan terapi seluler.
Stadium IV: Metastasis luas, prognosis buruk
Stadium IV ditandai dengan metastasis jauh ke paru, tulang, hati, dll. Pasien biasanya memiliki benjolan besar di tenggorokan, kesulitan menelan total, serta gangguan pernapasan. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun kurang dari 30%, pengobatan lebih difokuskan pada pereda gejala dan memperpanjang hidup.
1. Rasa asing tenggorokan yang persisten
Salah satu gejala awal adalah perasaan adanya benda asing yang selalu mengganjal di tenggorokan, mirip dahak yang sulit hilang, terutama saat menelan ludah. Sering disalahartikan sebagai faringitis kronis, sehingga diagnosis dan pengobatan terlambat.
2. Kesulitan atau nyeri menelan
Seiring pertumbuhan tumor yang menekan esofagus atau pangkal lidah, pasien mengalami nyeri hebat saat menelan, terutama ketika makan makanan keras atau minuman panas. Pada kondisi parah, bahkan menelan air menjadi sulit.
3. Sakit tenggorokan satu sisi yang persisten
Nyeri biasanya terbatas pada satu sisi tenggorokan dan dapat menjalar ke telinga sisi yang sama (nyeri radikuler), berbeda dari faringitis biasa yang bersifat simetris. Ini adalah gejala khas stadium menengah hingga lanjut.
4. Perubahan suara atau suara serak
Jika tumor mengenai pita suara, suara pasien menjadi serak dan cepat lelah saat berbicara. Pada perokok jangka panjang, gejala ini perlu diwaspadai sebagai tanda tekanan atau infiltrasi tumor.
5. Muncul benjolan di mulut atau tenggorokan
Beberapa pasien dapat meraba massa di area tonsil atau pangkal lidah, dengan bentuk tidak beraturan, permukaan kasar, dan konsistensi keras. Pertumbuhan massa dapat membatasi pembukaan mulut.
6. Tinnitus atau penurunan pendengaran satu sisi
Tumor yang dekat dengan muara tuba eustachius dapat menyebabkan efusi telinga tengah, rasa penuh di telinga, dan penurunan pendengaran, yang sering dianggap sebagai penyakit telinga.
7. Pembesaran kelenjar getah bening leher
Metastasis ke kelenjar getah bening leher menyebabkan munculnya massa keras di sisi leher, sulit digerakkan, dan biasanya tanpa nyeri tekan. Pada stadium lanjut, beberapa nodul dapat bergabung membentuk massa besar.
8. Gangguan pernapasan dan dengkuran memburuk
Tumor pada pangkal lidah atau dinding belakang faring dapat menekan saluran napas, menyebabkan aliran udara terhambat, ditandai dengan mendengkur saat tidur dan sesak napas, bahkan pada siang hari.
9. Bau mulut dan ulserasi bernanah
Lesi sering mengalami nekrosis atau infeksi, menghasilkan sekresi berbau busuk. Pasien merasakan bau mulut yang parah, dengan ulserasi yang sulit sembuh serta bercak putih atau merah pada pemeriksaan.
10. Perubahan kondisi mental dan berat badan
Pada stadium lanjut, pasien sering mengalami kelelahan, depresi, serta penurunan berat badan drastis. Kesulitan makan, malnutrisi, dan metabolisme tumor yang berlebihan membuat tubuh semakin lemah.
Kanker orofaring berkembang diam-diam, gejala awal mudah salah didiagnosis sebagai radang tenggorokan, sehingga sering melewatkan waktu terbaik untuk terapi. Para ahli dari United Life International Medical Center menekankan bahwa gejala seperti ketidaknyamanan tenggorokan persisten, tinnitus satu sisi, atau kesulitan menelan harus segera diperiksa dengan nasoendoskopi dan skrining HPV. Dengan intervensi komprehensif termasuk terapi rekonstruksi sel imun, prognosis pasien dapat ditingkatkan, memperpanjang kelangsungan hidup, serta meningkatkan kualitas hidup.