Diagnosis Sinovitis

Sinovitis adalah peradangan pada membran sinovial sendi, sering ditemukan pada lutut, pinggul, bahu, dan siku, dengan gejala berupa pembengkakan sendi, nyeri, serta keterbatasan gerak. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk menentukan penyebab, memilih rencana terapi, serta mencegah komplikasi.

1. Analisis Gejala Klinis

① Nyeri

● Nyeri ringan hingga sedang yang persisten, memburuk saat beraktivitas, membaik setelah istirahat.

● Nyeri lebih jelas saat sendi ditekan atau diputar, menunjukkan peradangan lebih berat.

② Pembengkakan Sendi

● Sinovitis menyebabkan penebalan membran sinovial dan peningkatan produksi cairan sinovial, sehingga sendi bengkak.

● Pada tahap awal, pembengkakan ringan, tetapi seiring progresi dapat semakin nyata.

③ Keterbatasan Gerak

● Karena peradangan dan pembengkakan, fleksibilitas sendi menurun, sebagian pasien merasa kaku.

● Pada kasus berat, pasien bisa sepenuhnya tidak mampu menekuk atau meluruskan sendi, memengaruhi aktivitas sehari-hari.

④ Gejala Lain

● Efusi sendi: Saat diraba dapat terasa fluktuasi cairan.

● Kekakuan pagi: Pasien dengan sinovitis reumatoid sering mengalami kekakuan sendi di pagi hari yang berlangsung lama.

● Sensasi gesekan sendi: Pasien dengan penebalan sinovial atau kerusakan tulang rawan mungkin merasakan gesekan abnormal.

2. Pemeriksaan Fisik

Dokter menilai kondisi sendi pasien melalui inspeksi, palpasi, dan tes fungsi.

① Pemeriksaan pembengkakan dan efusi sendi: Menggunakan tes balotemen patela atau tes gelombang cairan untuk menilai efusi lutut.

② Pemeriksaan titik nyeri tekan: Menekan area tertentu pada sendi untuk menilai adanya peradangan.

③ Tes gerakan pasif dan aktif: Menilai rentang gerak sendi, mengevaluasi tingkat keparahan sinovitis.

④ Pemeriksaan sensasi gesekan sendi: Untuk menilai apakah ada kerusakan tulang rawan yang menyertai.

3. Pemeriksaan Laboratorium

① Tes darah

● CRP dan ESR: Peningkatan menunjukkan adanya inflamasi atau infeksi.

● Faktor reumatoid (RF) dan antibodi anti-CCP: Untuk mendeteksi sinovitis akibat artritis reumatoid.

● Jumlah sel darah putih (WBC): Jika meningkat, dapat menunjukkan sinovitis infeksius.

② Analisis cairan sinovial

Cairan diperoleh melalui aspirasi sendi, lalu dilakukan pemeriksaan:

● Jumlah sel darah putih: Tinggi menunjukkan infeksi atau inflamasi.

● Transparansi dan viskositas cairan: Pada infeksi, cairan menjadi keruh dan viskositas menurun.

● Kultur bakteri: Untuk menilai kemungkinan sinovitis septik akibat infeksi bakteri.

● Pemeriksaan kristal asam urat: Dapat memastikan sinovitis akibat gout.

4. Pemeriksaan Pencitraan

① Sinar-X

● Digunakan terutama untuk menyingkirkan fraktur, deformitas sendi, atau pertumbuhan tulang berlebih.

● Pada tahap awal, hasil X-ray mungkin normal, tetapi pada tahap lanjut dapat terlihat penyempitan celah sendi atau kerusakan tulang.

② Ultrasonografi

● Dapat mendeteksi penebalan sinovial, efusi, serta tingkat peradangan.

● Membantu panduan aspirasi sendi agar lebih akurat.

③ MRI

● Merupakan metode pencitraan paling sensitif untuk sinovitis, memperlihatkan penebalan sinovial, efusi, dan kerusakan jaringan lunak dengan jelas.

● Membantu membedakan sinovitis infeksius, artritis reumatoid, dan sinovitis traumatik.

④ CT Scan

Digunakan untuk menilai kerusakan sendi yang kompleks atau sinovitis terkait tumor.

5. Biopsi Sinovial (Kasus Khusus)

Jika penyebab tidak jelas setelah pemeriksaan rutin, dokter dapat merekomendasikan biopsi sinovial, terutama pada kondisi berikut:

① Diduga sinovitis tuberkulosis: Pemeriksaan histopatologi dapat menemukan basil tuberkulosis.

② Diduga penyakit proliferatif sinovial: Seperti sinovitis villonodular berpigmen (PVNS).

Kesimpulan

Diagnosis sinovitis bergantung pada gejala klinis, pemeriksaan fisik, tes laboratorium, serta pencitraan. Di antara semua metode, MRI dan analisis cairan sinovial adalah alat diagnosis terpenting untuk menentukan jenis, penyebab, serta tingkat keparahan peradangan. Diagnosis dini sangat penting untuk memilih rencana terapi yang tepat dan mencegah perkembangan menjadi disfungsi sendi atau kerusakan tulang rawan. Untuk kasus dengan penyebab tidak jelas, biopsi sinovial dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis serta menjamin terapi yang lebih akurat.