Sklerosis sistemik (SSc) adalah penyakit jaringan ikat yang ditandai oleh fibrosis kulit dan organ dalam, termasuk dalam kategori penyakit autoimun. Pasien sering menunjukkan penebalan kulit, kelainan vaskular, serta kerusakan multi-organ. Penyebab pastinya belum sepenuhnya jelas, kemungkinan terkait faktor genetik, lingkungan, dan kelainan respons imun. Deteksi serta intervensi dini dapat memperlambat progresi penyakit.
Eropa dan Amerika
Prevalensi sklerosis sistemik di Eropa dan Amerika sekitar 50–300 kasus per juta orang, dengan rasio pasien wanita terhadap pria sekitar 4:1. Di negara maju, tingkat diagnosis lebih tinggi, sehingga pasien dapat lebih awal menerima terapi imunosupresif dan manajemen komplikasi, dengan angka kelangsungan hidup lebih baik dibanding rata-rata global.
Asia Tenggara
Data pasien di Asia Tenggara masih terbatas, namun penelitian menunjukkan prevalensinya lebih rendah dibanding Eropa dan Amerika. Akan tetapi, karena keterbatasan fasilitas medis di beberapa wilayah, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium menengah hingga lanjut, sering kali sudah disertai hipertensi pulmonal atau krisis ginjal, yang menyebabkan angka kematian relatif lebih tinggi.
1. Fibrosis multi-organ dan disfungsi
Sklerosis sistemik dapat melibatkan paru, jantung, ginjal, serta saluran cerna, menimbulkan fibrosis luas dan kerusakan fungsi ireversibel. Misalnya, penyakit paru interstisial dapat menyebabkan sesak napas, sedangkan krisis ginjal dapat mengakibatkan gagal ginjal akut, yang sangat mengancam nyawa pasien.
2. Komplikasi imun dan vaskular
Selain fibrosis, pasien sering mengalami gangguan fungsi vaskular, seperti fenomena Raynaud, penyakit mikrovaskular, serta aktivasi imun berkelanjutan. Perubahan ini meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular dan dapat memicu inflamasi kronis, mempercepat kerusakan organ, serta memengaruhi kualitas hidup dan harapan hidup.
Terapi rekonstruksi sel imun bekerja dengan membangun kembali sistem imun pasien, mengurangi fibrosis dan inflamasi akibat respons imun abnormal. Proses terapi ini memanfaatkan kerja sama berbagai sel imun untuk menekan aktivitas sel imun patogenik, memulihkan keseimbangan imun, sekaligus mendorong perbaikan dan regenerasi jaringan yang rusak, sehingga memberikan peluang baru bagi pasien pada stadium menengah hingga lanjut.
1. Membalikkan progresi fibrosis
Menekan proliferasi fibroblas berlebihan dan deposisi kolagen, mengurangi derajat pengerasan kulit serta organ dalam.
2. Memperbaiki mikrosirkulasi dan fungsi vaskular
Dengan mengatur respons imun, inflamasi vaskular dapat berkurang, aliran darah serta suplai oksigen membaik, sehingga gejala fenomena Raynaud dapat berkurang.
3. Meningkatkan kemampuan regulasi imun
Memulihkan toleransi imun, menurunkan risiko kekambuhan dan komplikasi, serta memperbaiki prognosis jangka panjang dan kualitas hidup pasien.
Dalam praktik terapi, pasien dengan metode tradisional sering menghadapi masalah penurunan fungsi imun, meningkatnya risiko infeksi, serta pemulihan tubuh yang lambat. Untuk membantu pasien lebih mampu menjalani terapi, meningkatkan toleransi, serta kualitas hidup, perlu disusun rencana rekonstruksi imun yang ilmiah berdasarkan fase pengobatan.
● Rencana jangka pendek: Meningkatkan kekebalan tubuh dengan cepat melalui transfusi sel imun, untuk memperkuat efek terapi.
● Rencana jangka menengah: Mengurangi efek samping terapi tradisional, mempercepat pemulihan tubuh, serta mendukung penyelesaian regimen terapi standar.
● Rencana jangka panjang: Melalui rekonstruksi sel imun, rekonstruksi imun usus, rekonstruksi imun unsur, serta rekonstruksi nutrisi imun, meningkatkan imunitas secara menyeluruh, memperbaiki kualitas hidup, serta memperpanjang harapan hidup.
1. Imunosupresan
Seperti siklofosfamid dan azatioprin, digunakan untuk menekan respons imun berlebihan serta memperlambat kerusakan organ.
2. Kortikosteroid
Dipakai untuk mengendalikan inflamasi serta eksaserbasi akut, tetapi penggunaan jangka panjang berisiko osteoporosis dan infeksi.
3. Vasodilator
Seperti penghambat kanal kalsium dan analog prostasiklin, digunakan untuk memperbaiki fenomena Raynaud dan hipertensi pulmonal.
4. Obat antifibrotik
Seperti pirfenidone dan nintedanib, dapat memperlambat progresi penyakit paru interstisial.
5. Terapi suportif simtomatik
Termasuk prokinetik gastrointestinal, obat antasida, dan lainnya, untuk mengurangi gejala pencernaan serta meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi.
Sklerosis sistemik adalah penyakit autoimun serius yang dapat menyebabkan kerusakan organ berat serta disabilitas bila tidak ditangani tepat waktu. Intervensi dini dan manajemen komprehensif sangat penting untuk memperbaiki prognosis. Para ahli dari Pusat Medis Internasional Union Life menyatakan bahwa kombinasi terapi rekonstruksi sel imun dengan pengobatan tradisional serta terapi suportif diharapkan mampu memberikan hasil terapi yang lebih baik serta meningkatkan kualitas hidup pasien.