Penyakit Alzheimer (Alzheimer's Disease, disingkat AD) adalah penyakit neurodegeneratif progresif, yang terutama ditandai dengan penurunan fungsi kognitif dan memori secara terus-menerus. Penyakit Alzheimer merupakan penyebab paling umum dari demensia, juga menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian pada lansia, serta menimbulkan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat global.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia, saat ini terdapat sekitar 55 juta penderita demensia di seluruh dunia, dengan 60% hingga 70% di antaranya adalah pasien penyakit Alzheimer. Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah ini akan meningkat menjadi 139 juta. Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 6,5 juta orang berusia 65 tahun ke atas yang menderita Alzheimer. Jumlah pasien Alzheimer di Tiongkok juga meningkat pesat, dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan.
① Gangguan kognitif: Pasien mengalami penurunan memori, gangguan bahasa, penurunan kemampuan penilaian, yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.
② Gejala perilaku dan psikologis: Dapat muncul depresi, kecemasan, halusinasi, delusi, yang meningkatkan kesulitan perawatan.
③ Kehilangan kemampuan perawatan diri: Seiring perkembangan penyakit, pasien mungkin tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan berpakaian, sehingga sangat bergantung pada orang lain.
④ Beban sosial dan ekonomi: Kebutuhan perawatan jangka panjang menimbulkan tekanan besar bagi keluarga dan sistem kesehatan, serta meningkatkan beban ekonomi masyarakat.
Rekonstruksi saraf berbasis terapi sel punca merupakan metode pengobatan penyakit Alzheimer yang paling menjanjikan setelah terapi tradisional. Sel punca dapat mendorong regenerasi saraf, mensekresi faktor pertumbuhan, meningkatkan kelangsungan hidup neuron, serta memperbaiki fungsi pembuluh darah otak, yang semuanya memiliki makna positif dalam pengobatan Alzheimer.
① Terapi obat:
● Inhibitor kolinesterase: Seperti Donepezil, Galantamine, dapat meningkatkan kadar neurotransmiter asetilkolin, sehingga memperbaiki fungsi kognitif.
● Antagonis reseptor NMDA: Seperti Memantine, dapat mengatur kerja glutamat, melindungi neuron, cocok untuk pasien stadium sedang hingga berat.
② Terapi non-obat:
● Pelatihan kognitif: Melalui latihan memori, pemecahan masalah, dan aktivitas lainnya untuk menstimulasi fungsi otak.
● Terapi fisik: Termasuk latihan fisik, latihan keseimbangan, untuk menjaga fungsi tubuh.
● Dukungan psikologis: Memberikan konseling psikologis kepada pasien dan keluarga untuk meredakan kecemasan serta depresi.
③ Intervensi gaya hidup:
● Pola makan sehat: Seperti diet Mediterania yang kaya buah, sayuran, biji-bijian, dan ikan, bermanfaat bagi kesehatan otak.
● Olahraga teratur: Latihan aerobik yang moderat dapat meningkatkan sirkulasi darah dan memperlambat penurunan kognitif.
● Aktivitas sosial: Partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan intelektual membantu mempertahankan fungsi kognitif.
Penyakit Alzheimer merupakan tantangan besar bagi kesehatan global, dan hingga kini belum ada metode penyembuhan. Namun, melalui terapi obat, non-obat, serta intervensi gaya hidup sehat, gejala dapat dikurangi dan kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan. Para ahli dari Pusat Medis Internasional Union Life menyatakan bahwa dengan perkembangan kedokteran regeneratif, terapi sel punca memberikan arah baru bagi pengobatan penyakit Alzheimer.