Cerebral palsy (CP; disingkat sebagai palsi serebral) adalah sekelompok penyakit heterogen, mencakup gangguan fungsi motorik seumur hidup yang memengaruhi tonus otot, postur, dan/atau pergerakan. Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan perkembangan otak janin atau bayi.
Meskipun CP sendiri bukanlah penyakit neurodegeneratif, namun seiring pertumbuhan anak dan perkembangan sistem saraf pusat hingga dewasa, manifestasi klinisnya dapat berubah. Gangguan fungsi motorik dapat bermanifestasi sebagai keterbatasan kemampuan fungsional dan aktivitas, dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Gejala motorik utama sering disertai dengan berbagai gejala lain, termasuk gangguan sensorik atau persepsi, disabilitas intelektual, kesulitan komunikasi dan perilaku, kejang, serta komplikasi muskuloskeletal. CP merupakan salah satu penyakit penyebab kecacatan paling umum pada masa kanak-kanak.
Prevalensi cerebral palsy anak bervariasi di seluruh dunia. Berdasarkan data survei Organisasi Kesehatan Dunia, angka kejadian CP pada bayi lahir hidup adalah sekitar 1% hingga 5%。Di negara maju, angka kejadian pada bayi baru lahir adalah sekitar 2‰ hingga 3‰, sementara di negara-negara Asia Pasifik sekitar 1‰ hingga 2,5‰. Di Amerika Serikat, diperkirakan terdapat 25.000 kasus CP baru setiap tahun, dengan total pasien nasional tidak kurang dari 400.000 orang. Di Tiongkok, prevalensi CP pada anak usia 0 hingga 6 tahun adalah 1,8% hingga 4%,dan meningkat sekitar 46.000 kasus baru setiap tahun.
① Gangguan fungsi motorik: Anak mungkin mengalami kontrol motorik yang buruk, dalam kasus berat tidak dapat menggenggam benda, berjalan, bahkan tidak dapat berguling, duduk, berdiri, serta melakukan fungsi mengunyah dan menelan secara normal.
② Disabilitas intelektual: Sekitar 25% hingga 80% anak mengalami keterbelakangan intelektual, yang memengaruhi kemampuan belajar dan kognitif.
③ Kejang: Sekitar 25% hingga 50% anak disertai kejang dan memerlukan manajemen jangka panjang.
④ Gangguan sensorik: Sebagian anak mungkin mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan bahasa, yang memengaruhi komunikasi sehari-hari.
⑤ Kelainan tulang dan sendi: Kelainan tonus otot jangka panjang dapat menyebabkan kontraktur sendi, deformitas anggota tubuh, serta masalah muskuloskeletal lainnya.
Rencana rekonstruksi saraf berbasis terapi sel punca merupakan metode paling potensial setelah terapi tradisional untuk pengobatan cerebral palsy anak. Terapi sel punca melalui perbaikan saraf dan peningkatan plastisitas otak memberikan terobosan potensial untuk memperbaiki fungsi motorik, kognitif, dan neurologis.
① Latihan rehabilitasi: Termasuk fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara, bertujuan meningkatkan kemampuan motorik, keterampilan hidup sehari-hari, dan kemampuan komunikasi anak.
② Terapi obat: Menggunakan pelemas otot dan obat lain untuk membantu mengurangi spasme otot dan mengontrol kejang.
③ Terapi bedah: Untuk kelainan otot atau tulang yang parah, pembedahan ortopedi mungkin diperlukan untuk memperbaiki fungsi.
④ Alat bantu: Menggunakan ortosis atau alat bantu jalan untuk meningkatkan fungsi motorik dan kemandirian anak.
Pakar dari Pusat Medis Internasional Union Life menekankan bahwa intervensi dini sangat penting dalam pengobatan cerebral palsy anak. Pada masa bayi dan balita, otak memiliki plastisitas tinggi, sehingga rehabilitasi dan terapi tepat waktu dapat secara signifikan memperbaiki prognosis serta membantu anak berintegrasi lebih baik dalam kehidupan sosial.