Penyakit graft versus host adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh serangan sel imun donor terhadap jaringan resipien, terutama terjadi setelah transplantasi sel punca hematopoietik alogenik. Berdasarkan waktu onset, GVHD dibagi menjadi dua tipe: akut (<100 hari) dan kronis (>100 hari), dengan manifestasi klinis melibatkan kulit, hati, saluran pencernaan, serta organ lainnya. Penyakit ini merupakan faktor kunci yang memengaruhi kualitas hidup serta prognosis jangka panjang pasien pasca transplantasi.
Jika diagnosis dan intervensi tidak dilakukan sejak dini, GVHD dapat menyebabkan kerusakan organ ireversibel. Mortalitas GVHD akut mencapai 15–40%, sedangkan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun pasien GVHD kronis hanya sekitar 50%. Progresi penyakit dapat memicu gagal hati, malnutrisi berat, hingga syok septik, yang meningkatkan risiko kematian serta beban ekonomi pasien.
1. Manifestasi kulit khas
GVHD akut ditandai dengan ruam makulopapular pruritus yang awalnya muncul di telapak tangan, telapak kaki, dan belakang telinga, lalu meluas ke tubuh. GVHD kronis dapat muncul sebagai sklerosis kulit, hiperpigmentasi, atau hipopigmentasi. Biopsi jaringan menunjukkan degenerasi vakuoler sel basal dan apoptosis keratinosit sebagai ciri khas.
2. Gejala saluran pencernaan persisten
Ditandai dengan diare berair persisten (>500 ml/hari) disertai nyeri perut, mual, dan muntah. Endoskopi menunjukkan hiperemia dan erosi mukosa usus, pada kasus berat terlihat deskuamasi mukosa. Tes tinja menunjukkan peningkatan α-1 antitrypsin dan calprotectin.
3. Abnormalitas fungsi hati
Sering ditandai dengan peningkatan bilirubin dan fosfatase alkali, sementara transaminase meningkat ringan. Biopsi hati memperlihatkan degenerasi duktus empedu kecil dan infiltrasi inflamasi pada area portal. Diagnosis banding harus mengeksklusi hepatitis virus dan hepatotoksisitas obat.
4. Keterlibatan mata
GVHD kronis sering disertai sindrom mata kering, konjungtivitis, bahkan ulkus kornea. Tes Schirmer <5mm/5 menit, dan pewarnaan permukaan okular menunjukkan pola khas bercak positif.
5. Kerusakan fungsi paru
Gejalanya meliputi sesak napas progresif, dengan tes fungsi paru menunjukkan gangguan ventilasi restriktif. CT resolusi tinggi memperlihatkan bronkiektasis dan gambaran ground-glass, perlu dibedakan dari pneumonia infeksi.
6. Biomarker darah
Kadar sitokin inflamasi seperti IL-6, TNF-α, dan ST2 meningkat; protein REG3α berkorelasi positif dengan tingkat keparahan GVHD usus. Biomarker ini membantu deteksi dini serta evaluasi respons terapi.
7. Lesi mukosa mulut
Gejalanya berupa ulkus mulut, leukoplakia, dan mulut kering. Pada kasus berat dapat terjadi trismus. Biopsi mukosa mulut menunjukkan infiltrasi limfosit dan apoptosis sel epitel.
8. Pemeriksaan histopatologi
Biopsi kulit, hati, atau usus memperlihatkan infiltrasi limfosit dan apoptosis sel epitel sebagai standar emas diagnosis GVHD. Ketepatan diagnosis sangat bergantung pada pemilihan waktu dan teknik pengambilan sampel.
Penyakit graft versus host adalah komplikasi serius pasca transplantasi sel punca hematopoietik, yang dapat menyebabkan kegagalan multi-organ dan kematian. Diagnosis dini sangat penting untuk memperbaiki prognosis, membutuhkan integrasi gejala klinis, hasil laboratorium, serta temuan histopatologi. Pakar dari Pusat Medis Internasional Union Life menekankan pentingnya membangun sistem monitoring GVHD yang terstandar, serta manajemen berbasis stratifikasi risiko untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas terapi, sehingga pasien dapat memperoleh peluang penyelamatan terbaik.